Rabu, 05 Juni 2013

[Lanjutan] Pengendalian LED (LED Drivers dengan Resistor)


Dalam tulisan sebelumnya, kita sudah mengetahui ada tiga cara menyediakan arus listrik yang sesuai dengan spesifikasi LED. Modul ini sering disebut dengan Power Supply atau LED Drivers.

Mari kita lihat terlebih dahulu secara mendalam dalam tulisan ini, keunggulan dan kekurangan menggunakan cara yang pertama, yaitu menggunakan hambatan (resistor).

Sesuai dengan fungsinya, resistor adalah komponen elektronik yang berfungsi untuk menghambat arus listrik, dengan demikian arus yang melewatinya dapat kita atur berapa besarnya.

Di dalam rangkaian, resistor dipasangkan seri (bukan paralel) dengan LED. Besarnya arus yang melewati resistor tersebut dapat kita hitung dengan menggunakan rumus:
Voltase (V) = Kuat Arus (I) x Resistansi (R)
Dimana satuan yang digunakan adalah Volt (V) untuk Voltase, Ampere (A) untuk Kuat Arus, dan Ohm (W) untuk Resistansi.

Perlu diingat bahwa saat menggunakan resistor sebagai pengatur kuat arus listrik yang akan digunakan untuk menyalakan LED adalah resistor harus dipasangkan seri dengan LED.

Lalu bagaimana dengan topologi rangkaian LED paralel dan topologi kombinasi antara seri-paralel? Pada intinya adalah topologi paralel dan topologi kombinasi antara seri-paralel itu sama dalam hal perhitungan nilai resistor. Kita akan bahas persoalan ini setelah kita memahami terlebih dahulu menggunakan resistor dengan topologi seri.

Contoh apabila kita mempunyai listrik DC (VDriver) sebesar 5V, dan kita ingin mengalirkan listrik ke LED dengan spesifikasi Forward Voltage (Vf) = 3V dan Continuous Current (I) = 20mA = 0,02A; untuk selanjutnya kita sebut Vf adalah VLED, dan I adalah ILED. Perhitungan untuk mencari nilai resistansi dari resistor-nya:
V = I x R
R = V / I
R = (VDriver – VLED) / ILED
R = (5V – 3V) / 0,02A
R = 2 / 0,02A
R = 100 W

Jangan lupa, hitung juga berapa Disipasi Daya (P) yang terjadi pada resistor dengan rumus:
Disipasi Daya (P) = Voltase (V) x Kuat Arus (I)
Dimana satuan yang digunakan oleh Disipasi Daya adalah Watt (W).

Sehingga dalam contoh perhitungan di atas, maka kita dapat menghitung:
P = V x I
P = (VDriver – VLED) x ILED
P = (5V – 3V) x 0,02A
P = 2V x 0,02A
P = 0,04W
Dengan demikian kita dapat menggunakan resistor dengan kemampuan 0,125W (1/8W) atau lebih, yang penting nilainya lebih dari 0,04W. Bagaimana kalau kurang dari itu? Maka resistor akan panas dan kemudian rusak. Jika hal itu terjadi, maka kemungkinan bisa saja nilai resistansinya berubah (secara otomatis kuat arus listrik akan mengalir tanpa kendali) bahkan yang lebih fatal adalah terjadi kebakaran.

Ya, tentunya kita sering melihat contoh perhitungan seperti di atas di banyak halaman di internet. Apakah ada yang salah? Tentu tidak, secara teoritis di atas kertas itu betul. Namun ada baiknya bila kita berkutat secara teoritis terlebih dahulu.

Keadaan di atas adalah keadaan ideal, dalam arti selama besarnya VDriver = 5V maka ILED yang melewati LED akan tetap bernilai 0,02A atau 20mA. Bagaimana jadinya apabila VLED nilainya kurang atau lebih daripada 5V? Akankah ILED juga akan tetap bernilai sama? Mari kita lihat perhitungannya di bawah ini.

Seandainya VDriver = 4V, maka:
ILED = (VDriver – VLED) / R
ILED = (4V – 3V) / 100 W
ILED = 1 / 100 W
ILED = 0,01A = 10mA

Seandainya VDriver = 6V, maka:
ILED = (VDriver – VLED) / R
ILED = (6V – 3V) / 100 W
ILED = 3 / 100 W
ILED = 0,03A = 30mA

Dari perhitungan di atas, apabila ILED = 10mA maka nyala LED akan jadi lebih redup; sedangkan apabila ILED = 30 mA maka nyala LED akan jadi lebih terang. Jangan keburu senang dulu, LED yang dinyalakan dengan Kuat Arus melebihi spesifikasinya memang akan jadi lebih terang, akan tetapi juga usia pakainya akan jadi lebih singkat atau bukan tidak mungkin LED akan jadi rusak selamanya (tidak dapat digunakan lagi).

LED adalah komponen elektronik yang dikendalikan berdasarkan Kuat Arus, bukan Voltase! Itu yang harus ditanamkan baik-baik dalam benak kita saat berurusan dengan LED.

Dalam realitanya, yang harus kita perhatikan adalah Continuous Current (ILED). Apabila spesifikasi dari pabrik menyebutkan nilai ILED yang dibutuhkan adalah 20mA, maka ada baiknya kita memberikan Kuat Arus sebesar 80-90% saja, dalam hal ini 16-18mA. Dan yang perlu diingat lagi, saat diberikan Kuat Arus sebesar 16mA dengan 18mA, maka Voltase yang dibutuhkan LED bukan lagi 3V melainkan mungkin 2,7-2,8V; hal ini tidak dapat dihitung secara teoritis melainkan harus dicoba ke dalam rangkaian menggunakan LED yang akan kita pakai dan diukur secara langsung dengan menggunakan Voltmeter dan Amperemeter, atau Multimeter (biasanya gabungan antara Voltmeter, Amperemeter, dan Ohmeter). Rangkaian yang dimaksud adalah rangkaian seperti gambar di bawah ini dan lebih baik menggunakan Variable Resistor agar lebih mudah dalam melakukan penyesuaian kuat arus yang dapat kita baca melalui Amperemeter dengan merubah-rubah nilai Variable Resistor.


Prinsip dasar kita menggunakan rangkaian di atas adalah membuat bagaimana caranya agar kuat arus yang mengalir di rangkaian tersebut sesuai dengan yang kita kehendaki melalui Amperemeter (A) dengan cara merubah-rubah nilai resistor, dalam contoh (ideal) adalah 20mA. Setelah itu kita dapat melihat berapa voltase yang melewati resistor melalui Voltmeter (V) seperti gambar di atas. Dengan demikian kita dapat mengetahui voltase LED saat diberikan arus 20mA secara nyata, bukan hanya berdasarkan spesifikasi datasheet dari pabrik.

Untuk mengukur voltase, Voltmeter harus selalu dipasangkan secara paralel dengan komponen yang akan kita ukur; dalam gambar di atas adalah cara mengukur voltase di resistor. Untuk mengukur voltase pada LED secara langsung menggunakan Voltmeter, kita hanya perlu merubah posisi Voltmeter di antara LED seperti pada resistor.

Sedangkan untuk mengukur kuat arus, Amperemeter harus selalu dipasangkan secara seri dalam rangkaian seperti gambar di atas.

Metode menggunakan resistor sebagai LED Driver ini bagaimana pun juga, dapat dan tetap layak digunakan dalam aplikasi yang tidak terlalu penting seperti misalnya penggunaan LED sebagai indikator suatu alat yang nyala saat alat tersebut dalam kondisi hidup dialiri listrik.

Ada pun kekurangan alami dari resistor adalah mengubah energi listrik dari arus listrik yang dihambatnya menjadi panas. Dan jangan lupa dengan Disipasi Daya yang terjadi pada resistor, maka tadinya yang dikatakan dengan menggunakan LED dapat irit listrik, sebenarnya ya belum tentu. Jika dihitung secara keseluruhan, maka energi listrik yang dibutuhkan dalam kondisi ideal adalah:
PTotal = PResistor + PLED
PTotal = 0,04W + (3V x 0,02A)
PTotal = 0,04W + 0,06W
PTotal = 0,1W

Itu belum termasuk faktor efesiensi dari LED Driver apabila menggunakan transformer (topologi linear) yang digunakan untuk menurunkan voltase listrik dari jaringan listrik di rumah (PLN di Indonesia) sebesar 220 VAC menjadi 5VAC, dengan disipasi daya penyearah dan komponen lainnya diabaikan (terlalu kecil nilainya). Biasanya efesiensi transformer adalah 60-80%, maka total energi listrik yang dipakai berikut transformer adalah:
P = (1 / Efesiensi Transformer) x PTotal
P = (1 / 0,6) x 0,1W
P = 0,17W
Jadi total energi listrik yang digunakan berikut transformer untuk menyalakan 0,06W LED (ideal) berkisar antara 0,125 (efesiensi transformer = 80%) hingga 0,17W (efesiensi transformer = 60%). Mengejutkan bukan?


Sekarang kita akan melihat bagaimana menggunakan resistor pada topologi kombinasi paralel seperti gambar di atas. Sebenarnya, perhitungan yang dipakai kurang lebih sama seperti pada topologi seri; kita hanya perlu menghitung nilai resistansi resistor seperti pada topologi seri, sebab kita menggunakan resistor yang dipasangkan seri dengan LED. Bedanya adalah konsumsi energi listrik yang digunakan jadi beberapa kali lipat lebih besar sesuai dengan jumlah rangkaian seri yang akan kita gunakan.

Kita ambil contoh mengacu pada kondisi ideal contoh rangkaian seri di atas sebelumnya. Apabila dalam satu rangkaian topologi kombinasi paralel, terdapat 3 (tiga) buah rangkaian seri yang diparalelkan, dan setiap rangkaian seri membutuhkan kuat arus sebesar 20mA. Maka kuat arus secara keseluruhan yang dibutuhkan oleh rangkaian kombinasi seri dan paralel adalah 3 x 20mA = 60mA dengan voltase yang sama, dalam contoh adalah 5V. Dengan demikian nilai resistansi resistor yang digunakan dalam setiap rangkaian seri yang diparalelkan juga sama nilainya, dalam contoh adalah 100 W; begitu pula dengan nilai Disipasi Daya pada resistor juga akan sama, dalam contoh adalah 0,04W.


Mungkin kita berpikir mengapa tidak memakai 1 (satu) resistor saja untuk ketiga rangkaian seri yang diparalel tersebut seperti gambar di atas? Jawabnya adalah memang betul kita dapat menggunakan 1 (satu) resistor yang mewakili ketiga fungsi resistor dalam ketiga rangkaian seri yang diparalelkan; yang juga dapat mengatur dan memberikan kuat arus sebesar 60mA. Hanya saja, hal tersebut tidak dapat menjamin bahwa ketiga rangkaian seri tersebut mendapatkan kuat arus yang sama dan seimbang sebesar 20mA untuk setiap rangkaian serinya. Untuk itu lebih baik kita menghindari memakai cara ini.

Kesimpulan yang dapat kita ambil adalah dengan menggunakan resistor mungkin memang mudah dan murah, akan tetapi tidak dapat mengatasi fluktuasi voltase sumber listrik yang digunakan dan juga membuang sejumlah energi listrik menjadi panas.

Persoalan panas yang merupakan hasil transformasi bentuk dari efek samping energi listrik yang terbuang ini memang suatu hal yang lumrah terjadi pada semua komponen dan alat yang menggunakan energi listrik. Hanya saja, kita dapat menyiasatinya agar dapat ditekan seminimal mungkin dengan membuat design rangkaian yang lebih baik; jika tidak maka yang terjadi bukannya hemat energi listrik, tapi malah boros energi listrik.

Minggu, 05 Mei 2013

Pengendalian LED (Topologi)


Satu-satunya cara sederhana untuk menggunakan LED adalah dengan memberikan arus listrik yang sesuai dengan spesifikasi LED tersebut. Namun dalam realitanya ada banyak hal yang harus kita perhatikan dalam menyediakan arus listrik tersebut.

Pertama kali yang harus kita pikirkan adalah:
  1. Tujuan pemakaian LED. 
  2. Jenis, karakteristik dan jumlah LED emitter yang sesuai dengan tujuan pemakaian.
  3. Apabila kita akan menggunakan LED emitter lebih dari satu, maka kita harus mempertimbangkan bentuk topologi dari hubungan atau koneksi antar LED emitter tersebut. 
  4. Sumber listrik yang akan kita gunakan dan juga bagaimana kita menyediakan sumber listrik yang sesuai dengan spesifikasi topologi LED.

Sebagai contoh kita ingin membuat senter LED dengan memakai sumber listrik baterai 9V. Kita dapat memilih menggunakan Single Hi-Power White LED Emitter dengan pertimbangan harus dipikirkan juga cara pembuangan panas yang dihasilkan, namun menghasilkan cahaya yang terang sekali. Atau kita dapat menggunakan beberapa Hi-Brightness White LED Emitter yang tidak memerlukan modul pendingin, namun cahaya yang dihasilkan tidak seterang dengan Hi-Power LED.

Apabila kita menggunakan beberapa LED emitter, maka kita harus memahami jenis topologi yang akan kita pakai:
  1. Seri
  2. Paralel
  3. Kombinasi antara Seri dan Paralel
  4. Multiplexing
 
Di antara keempat topologi di atas, yang sering dipakai adalah ketiga yang pertama. Sedangkan untuk Topologi Multiplexing biasanya dipakai pada layar LED untuk iklan maupun modul “teks berjalan” (running text) yang sering kita jumpai di tempat-tempat publik yang berfungsi untuk memberikan informasi singkat seperti bank, airport, mall, dan lain-lain.

Topologi Multiplexing bekerja dengan cara menyalakan satu per satu LED emitter secara bergantian dari awal hingga akhir dalam frekuensi yang tinggi, sehingga tidak terlihat nyala dan padam dengan jelas oleh mata manusia; dengan kata lain mata kita akan menganggap bahwa semua LED emitter tersebut nyala dalam waktu yang bersamaan.

Seperti contoh di atas adalah matriks LED emitter berukuran 3x3, maka salah satu prosedur yang dapat ditempuh adalah dengan memberikan tegangan positif pada baris pertama, kemudian bergantian memberikan tegangan negatif pada kolom ke-1 hingga ke-3; setelah itu tegangan positif dialihkan ke baris ke-2 dan tegangan negatif bergantian diberikan pada kolom ke-1 hingga ke-3; begitu pula pada baris ke-3 dan kemudian mengulangi proses yang sama kembali ke baris ke-1 lagi. Semuanya dilakukan dalam waktu yang super singkat atau frekuensi tinggi.

Mengingat rumitnya proses multiplexing ini, maka dibutuhkan komponen utama yang disebut micro-controller untuk menangani semua proses tersebut. Tentunya masih ada modul-modul lain yang ditambahkan untuk melengkapi seluruh sistem tersebut.

Selanjutnya kembali lagi pada tujuan awal membuat senter LED, apabila kita memilih menggunakan Single Hi-Power White LED Emitter, maka kita harus memikirkan bagaimana memberikan arus listrik yang sesuai dengan spesifikasi LED emitter tersebut.

Ada beberapa cara untuk menyediakan arus listrik agar sesuai dengan spesifikasi LED emitter:
  1. Menggunakan resistor sebagai pembagi tegangan (voltage divider).
  2. Menggunakan transistor sebagai komponen utama pengatur arus dan tegangan.
  3. Menggunakan IC (Integrated Circuit) khusus untuk mengendalikan arus listrik yang akan diberikan ke rangkaian LED, mulai dari IC Voltage Regulator, IC Op-Amp (Operational Amplifier), hingga IC LED Driver (khusus) yang kini semakin banyak diproduksi.

Dari urutan di atas, semakin ke bawah, dibutuhkan dana semakin besar, perhitungan yang semakin kompleks dan untuk itu dibutuhkan keahlian yang lebih mendalam dalam hal elektronika; namun hasil, kehandalan dan efesiensi juga semakin bagus.

Dengan semakin bagus cara yang kita gunakan untuk menyediakan arus listrik ke rangkaian LED, maka semakin nyata terlihat keunggulan efesiensi penggunaan LED sebagai sumber cahaya; sebaliknya penggunaan LED akan memberikan hasil yang sama saja dalam arti tidak ada efesiensi yang berarti dengan beralih menggunakan LED sebagai sumber cahaya.

Kita akan bahas satu per satu cara untuk menyediakan arus listrik bagi LED pada pembahasan selanjutnya.

Sabtu, 23 Maret 2013

Karakteristik LED

Tulisan kali ini kita akan membahas karakteristik LED. Karakteristik LED secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 (tiga), antara lain:
1.      Karakteristik Fisik/Dimensi
2.      Karakteristik Kelistrikan
3.      Karakteristik Optik


Karakteristik Fisik/Dimensi
Karakteristik Fisik/Dimensi adalah mengenai ukuran fisik atau dimensi dari sebuah LED. Seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya bahwa LED dibuat dalam berbagai variasi ukuran fisik mulai dari yang sangat kecil hingga relatif besar. Hal ini juga berhubungan dengan aplikasi penggunaan LED itu sendiri.

Bentuk LED secara fisik yang umum diproduksi adalah:
1.      Mount Hole
Ini adalah bentuk klasik dari LED yang sering kita jumpai dari pertama kali LED diproduksi, namun ada juga yang mempunyai penampang kotak selain lingkaran (tabung/cylinder).
Berkaitan dengan nama yang diberikan, biasanya posisi pemasangan LED ini cukup sederhana, yaitu dengan mendorong masuk LED ke dalam sebuah lubang yang ukurannya kurang lebih sama dengan LED tersebut sehingga LED dapat masuk dan menempel kuat dengan lubang tersebut.
LED jenis ini kini diproduksi dengan berbagai ukuran diameter penampang, mulai dari 3 mm, 5 mm, 8 mm, hingga 10 mm.
Jumlah kaki yang ada pada LED ini biasanya 2 (dua), kaki anoda (+) dan katoda (-). Namun dalam perkembangannya ada jenis LED seperti ini yang mempunyai 3 (tiga) kaki, 2 (dua) kaki anoda (+) dan 1 (satu) kaki katoda (-). Hal ini karena LED tersebut dapat memancarkan 2 (dua) warna sinar.
2.      Piranha
Ini adalah perkembangan dari bentuk klasik LED, mempunyai penampang bujursangkar dan mempunyai jumlah 4 (empat) kaki, 2 (dua) anoda (+) dan 2 (dua) katoda (-). Biasanya pula LED jenis ini diposisikan dipasang di atas PCB (Printed Circuit Board) dan memancarkan cahaya yang cukup terang.
3.      SMD (Surface Mount Device)
Ini adalah bentuk LED yang sangat kecil, ada yang mempunyai 2 (dua) kaki, 4 (empat) kaki, hingga 6 (enam) kaki. Ada yang khusus kali ini, kaki-kaki LED ini menempel tepat di samping LED, hal ini berkaitan dengan nama yang diberikan karena diposisikan untuk dipasang di atas PCB dengan menempel mengandalkan timah yang menghubungkan kaki-kaki LED tersebut dengan PCB.
Namun meskipun demikian biasanya hanya memancarkan 1 (satu) warna cahaya saja, kecuali memang diproduksi secara khusus untuk aplikasi tertentu.
Bentuk ini memungkinkan LED menjadi sumber cahaya di gadgets canggih yang biasa kita gunakan sehari-hari karena bentuknya yang sangat kecil.
4.      High Power LED
Kini, LED sudah mencapai perkembangannya yang luar biasa, mampu menghasilkan intentsitas cahaya yang tinggi disebut dengan High Power LED.
LED jenis ini mempunyai bentuk yang beragam, ada yang berpenampang lingkaran dan pipih seperti Piranha namun hanya mempunyai 2 (dua) kaki dan biasanya dijual dengan mini PCB berpenampang segi enam dari alumunium yang berfungsi menghantarkan panas ke bagian belakang LED tersebut. Namun mini PCB ini bukanlah modul pendingin.
Bentuk yang lain adalah LED saja tanpa mini PCB, karena untuk memakainya sudah disiapkan tempat di mana LED tersebut akan diposisikan dengan baik dan langsung berhubungan dengan modul pendingin.
Disebut High Power karena LED ini memerlukan daya yang cukup besar untuk bekerja dalam kondisi yang optimal dan mengeluarkan cahaya yang sangat terang, dan tentunya juga panas yang berlebih.


Karakteristik Kelistrikan
Karakteristik Kelistrikan adalah mengenai listrik yang dibutuhkan LED agar dapat bekerja secara optimal dan mempunyai jangka waktu usia pakai yang lama.

Ada banyak hal menyangkut karakteristik kelistrikan ini, tentunya kita harus mempunyai lembar spesifikasi (datasheet) yang dikeluarkan oleh pabrik yang memproduksi LED tersebut. Kita tidak akan membahas itu semua satu per satu, hanya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk pemakaian yang sederhana.

Dalam datasheet, ada bagian tertulis Absolute Maximum Ratings. Di dalam tabel ini disebutkan karakteristik-karakteristik beserta nilai-nilainya yang merupakan batas maksimum dari karakteristik-karakteristik tersebut. Jadi intinya kita tidak boleh memberikan listrik dengan spesifikasi yang nilainya melebihi dari yang tertera di dalam tabel tersebut.

Karakteristik kelistrikan yang penting untuk diketahui adalah:
1.      (Continuous) Forward Current (If)
Adalah besarnya arus listrik yang diperlukan agar LED mengeluarkan cahaya dalam satuan Ampere (A).
2.      Forward Voltage (Vf)
Adalah besarnya tegangan listrik yang diperlukan agar LED mengeluarkan cahaya dalam satuan Volt (V).
3.      Wattage (P)
Adalah besarnya daya listrik yang diperlukan agar LED mengeluarkan cahaya dalam satuan Watt (W).

Hubungan antara ketiga karakteristik kelistrikan di atas tercermin dalam rumus:

P = Vf x If

Contoh:
Disebutkan bahwa sebuah LED memerlukan tegangan sebesar 3,3 V dan arus sebesar 0,02 A. Maka besar daya listrik yang diperlukan agar LED memancarkan cahaya adalah sebesar:
P = Vf x If = 3,3 x 0,02 = 0,066 W

Idealnya, apabila kita menggunakan 1.000 buah LED seperti contoh di atas, kita dapat mengatakan bahwa modul LED tersebut membutuhkan daya 66 W. Namun, dalam kenyataannya daya listrik yang dipakai kemungkinan lebih dari 66 W, hal ini berkaitan erat dengan modul Power Supply (LED Driver) yang digunakan; biasanya 110% hingga 125% dari daya listrik idealnya.


Karakteristik Optik
Karakteristik Optik adalah mengenai berkas cahaya dan bagaimana berkas cahaya itu memancar dari LED. Karakteristik ini berkaitan erat dengan design Modul LED, penggunaan LED dengan Karakteristik Optik yang kurang sesuai mengakibatkan cahaya yang dihasilkan LED menjadi tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, bahkan bukan tidak mungkin menjadi tidak ada manfaatnya sama sekali.

Karakteristrik Optik yang layak untuk diperhatikan adalah:
1.      Intensitas Cahaya (Brightness)
Adalah kekuatan cahaya yang dipancarkan LED dalam satuan candela (cd) atau biasanya juga sering dipakai adalah lumen (lm).
1 (satu) candela adalah intensitas cahaya yang setara dengan nyala 1 lilin, sedangkan lumen adalah intensitas cahaya yang perhitungannya sedikit lebih kompleks karena membutuhkan beberapa variabel lain untuk menghitungnya.
2.      Sudut Cahaya (View Angle)
Adalah besarnya sudut berkas cahaya yang dipancarkan dari LED.
Masih ingat bahwa salah satu sifat LED adalah tidak membutuhkan proyektor? Karena itu tentunya berkas cahaya yang keluar dari LED membentuk sudut dan hal ini sudah ditentukan saat diproduksi di pabrik.
Besarnya sudut ini pula yang merupakan salah satu variabel yang digunakan untuk menghitung nilai Intensitas Cahaya yang dihitung dalam satuan lumen (lm).
3.      CRI (Color Rendering Index)
Adalah warna berkas cahaya yang dihasilkan oleh LED.
Dalam hal warna putih, kita sering mendengar istilah Warm White, Pure White, dan Cool White. Memang ada beberapa level warna putih yang dihasilkan LED yang perlu kita ketahui lebih jauh, ada juga yang menyebutkan dengan satuan Derajat Kelvin (°K).
Level warna putih paling rendah (Warm White) dengan nilai Derajat Kelvin lebih kecil cenderung mengandung warna kuning. Semakin tinggi level warna putih semakin putih terang (Pure White); hingga level tertinggi (Cool White) dengan nilai Derajat Kelvin yang lebih besar cenderung mengandung warna biru.


Perlu kiranya kita ketahui bahwa ketiga karakteristik LED memang saling berkaitan, namun tidak selalu seperti yang kita bayangkan berbanding lurus dengan besarnya nilai dari karakteristik-karakteristik tersebut.

Sebagai contoh, sebuah LED dengan Wattage lebih besar belum tentu lebih terang berbanding lurus dengan jumlah LED dengan Wattage yang lebih kecil dalam jumlah Wattage yang sama. Contoh yang lain, sebuah LED dengan dimensi yang besar belum tentu juga lebih terang daripada LED dengan dimensi yang lebih kecil. Contoh selanjutnya berkaitan dengan Intensitas Cahaya adalah LED dengan View Angle lebih kecil mempunyai Brightness lebih besar daripada LED dengan View Angle lebih besar, karena berkas cahaya yang dipancarkan lebih fokus dengan View Angle yang lebih kecil.

Masihkah Anda berpendapat bahwa semua LED yang ada di pasaran itu sama saja karena fisiknya sama?

Masihkah Anda berpendapat bahwa mendesain dan atau membuat LED Module itu mudah hanya dengan menggunakan beberapa komponen elektronika yang umum beredar di pasaran? Kita akan membahasnya dalam tulisan berikutnya.